Trending, Serap.id - Jagat media sosial kembali diguncang oleh aksi "pamer kuasa" yang dilakukan oleh oknum keluarga anggota Polri. Kali ini, sosok Ria Vera Andriani, istri dari Bripka Rahmat Walliansen, menjadi pusat kecaman publik setelah mengunggah video yang memamerkan penggunaan KTA (Kartu Tanda Anggota) Bhayangkari sebagai "jimat" untuk lolos dari razia lalu lintas.
Insiden ini bermula di Bundaran Tugu Juang, di mana petugas sedang melakukan razia rutin. Ria, yang terjaring, bukannya menunjukkan ketaatan sebagai warga negara yang baik, justru mengeluarkan KTA Bhayangkari berwarna pink yang ia sebut sebagai "Kartu Sakti".
“Guys, ada razia guys… dan aku keluarin ini,” ucapnya dalam video yang kemudian viral, sambil memperlihatkan apa yang ia sebut sebagai kartu sakti KTA Bhayangkari.
Dalam video yang viral ia bercerita dengan nada bangga bahwa petugas Polantas hanya bisa "tersenyum" setelah melihat kartu tersebut. Sebuah narasi yang secara tidak langsung menampar wajah profesionalisme Polri di lapangan.
Di momen itu, jutaan penonton serentak mengangguk pahit. Bukan karena kagum, tapi karena merasa, oh, jadi begini caranya.
Netizen tidak tinggal diam. Aksi ini dinilai sebagai bentuk penyalahgunaan atribut dan status yang sangat tidak etis. Beberapa poin kritik pedas netizenpun mulai bersliweran. Mereka menilai bahwa ini memanfaatkan status suami untuk melanggar aturan lalu lintas yang seharusnya berlaku untuk semua orang. Tindakan ini dianggap mencoreng marwah Bhayangkari sebagai organisasi yang seharusnya mendukung integritas Polri, bukan justru menjadi "alat pelicin" pelanggaran.
Setelah kegaduhan memuncak, pola yang sudah sangat terbaca pun terjadi. Ria muncul dalam sebuah video singkat dengan raut wajah yang jauh berbeda dari saat ia pamer "kartu sakti".
Ia memohon maaf kepada publik dan institusi Polri, menyatakan tidak bermaksud menjatuhkan nama baik organisasi. Ia pun mengklaim tindakan tersebut sebagai kekhilafan dan berjanji tidak akan mengulanginya.
Kalimat yang rapi, tenang, dan sesuai standar klarifikasi. Publik mendengar. Sebagian memaafkan. Sebagian lain tetap bertanya pelan tapi tajam, kalau videonya tidak viral, apakah ceritanya akan sama?
Kasus ini sejatinya bukan soal satu orang, satu kartu, atau satu razia. Ini soal rasa keadilan yang sehari-hari diuji di lampu merah, di bahu jalan, di depan petugas yang menentukan nasib hanya dalam hitungan menit.
Bagi masyarakat biasa, razia adalah soal lengkap atau tidaknya surat.
Bagi sebagian kecil lainnya, razia kadang hanya soal keluarin apa dari dompet. (Andrian)


0Komentar